TIMES MEDAN, SURABAYA – Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus kembali mengepung markas Polrestabes Surabaya di Jalan Veteran pada Sabtu (30/8). Aksi ini merupakan bentuk solidaritas dan tindak lanjut setelah unjuk rasa sehari sebelumnya yang berujung pada penahanan sejumlah demonstran.
Situasi tegang memuncak sekitar pukul 16.50 WIB. Sejumlah peserta aksi yang diidentifikasi dari kelompok masyarakat sipil mulai melemparkan botol air mineral dan petasan ke arah kantor polisi. Aparat pun merespons dengan cepat. Hanya berselang beberapa menit, gas air mata ditembakkan dan water canon dikerahkan untuk membubarkan massa.
Seorang orator dalam aksi tersebut mengungkapkan kekecewaannya. Ia menyebut ada sekitar 50 massa yang diamankan pada aksi malam sebelumnya dan mereka datang untuk menuntut pembebasan rekan-rekannya.
“Kami di sini untuk menjemput dan memastikan keselamatan mereka. Beberapa teman bahkan mengalami kekerasan. Kami adalah warga negara yang seharusnya dilindungi," ujarnya.
Menurut catatan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya, jumlah massa yang ditahan oleh aparat tercatat sebanyak 43 orang. Yang mengkhawatirkan, mayoritas dari mereka yang diamankan masih berusia anak-anak.
Dampak dari ketegangan ini juga terlihat jelas di area Polrestabes. Sejumlah properti milik kepolisian mengalami kerusakan. Salah satu yang paling terlihat adalah neon box "Museum Hidup Polrestabes Surabaya" yang mika depannya pecah. Kerusakan ini menjadi saksi bisu dari aksi yang berujung ricuh di depan gedung tersebut. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Aksi Mahasiswa Surabaya Kembali Memanas, Tuntut Pembebasan Rekan di Polrestabes Surabaya
Pewarta | : Zisti Shinta Maharrani |
Editor | : Faizal R Arief |